Kadang diperdaya situasi dan bingung, uh.
Contoh sangat simple:
dapet nilai kategori B waktu MCQ[1]
*Reaksiku: nggerung-nggerung[2] yang tidak sengaja didengar teman yang tidak lulus MCQ dan teman yang nilainya A
*reaksi teman yang tidak lulus MCQ: “Kamu tu mbok ya bersyukur,, masih dapet B kan? Lha, aku??”
*reaksi teman yang dapet A: “Udah.. Semangat aja, blok depan kamu pasti bisa dapet nilai yang lebih bagus!”
*reaksiku dalam hati: “Aku bersyukur kok lulus.. Tapi kok dia bisa dapet A??”[3] lalu menunjuk si-teman-bernilai-A
.
.
Itu contoh yang wajar ditemui dalam kehidupan sehari-hari[4]. Maksudku.. bukan bingung sih, tapi serba salah. Beda gak sih? :grin: Maksudku, ketika kita berada dalam suatu kondisi yang tengah-tengah, dan kita mau maju, mestinya liat ke atas kan? Jadi termotivasi dan berusaha sekuat-kuatnya. Tapi ketika hampir beringas, kita juga harus sadar untuk liat ke bawah dan bersyukur. Intinya seimbang dan pengendalian diri (?)
Ah ya, mestinya bisa membedakan mana ketika aku pingin maju dengan aku yang lupa bersyukur (astaghfirullah :cry: ).. Masalahnya, kadang situasi itu ambigu banget dan orang (aku) lupa kapan harus stop nggerung-nggerung[5] dan nengok ke bawah..atau ndangak ke atas ketika “males” menjadi titel yang mengekor di belakang namaku, T__T
It’s always easier said than done. Positive thinking nak, kembali ke Panduan!
.

Footnote
[1] Multiple Choice Question: salah satu dari empat jenis ujian blok di kampusku yang berbobot paling bombastis, yaitu 50% sendiri dari total nilai blok. Terdiri dari 2 sesi dan total berisi seratus-dua ratus-an soal. Kalo remed merogoh kocek puluhan bahkan seratusan ribu rupiah. Tapi alhamdulillah blum pernah remed sih, hehe.
[2] Ini exaggerating ah, nggerung2? Apa itu?
[3] Bukan mempertanyakan nasib semacam senandung “hidup sungguh tidak adil lalalaaaaa~” tapi nanyain kiat agar bernilai bagus.
[4] Bukan berarti hidupku hanya dipenuhi masalah nilai.
[5] Liat poin [2].



No Responses Yet to “Melihat ke atas atau ke bawah”  

  1. No Comments Yet

Leave a Reply