Bahasa Jawa!
Kemarin waktu aku lagi ngublak-ublek buku Bahasa Jawa buat ujian sekolah, aku nemu catetan ini. Walaupun aku bukan pengguna sejati bahasa ini – soalnya kecampur-campur sama bahasa Indonesia – tapi karena aku orang Jawa, jadi aku majang ini di sini. Keliatannya memang gak penting dan nambah-nambahi kerjaan
tapi siapa tau ada yang sama-sama kurang kerjaan juga. ![]()
Seperti yang sudah diketahui orang-orang, bahasa Jawa itu ada beberapa tingkatan. Di dalam catetanku, ada delapan tataran bahasa Jawa.
1. Ngoko atau Jawa Dwipa
Ini dipake sesama anak kecil atau orang tua kepada yang lebih muda yang kedudukannya lebih rendah. Semua kata-kata, termasuk imbuhan-imbuhannya juga ngoko.
2. Ngoko Andap
a. Antya Basa
Dipake orang tua kepada yang lebih muda yang kedudukannya lebih tinggi; atau sesama yang sudah dekeeeet banget hubungannya. Ini campuran bahasa ngoko sama krama inggil. Yang dikrama-in cuma kata-katanya, imbuhannya enggak.
b. Basa Antya
Dipake sama orang tua kepada yang lebih muda yang kedudukannya lebih tinggi. Campuran antya basa sama bahasa krama.
Bedanya sama antya basa, misalnya, kalok di dalem antya basa, “kowe” dikrama-in jadi “sliramu” tapi kalok di sini jadi “panjenengan”.
3. Basa Madya
a. Madya Ngoko
Dipake bakul dengan bakul. Campuran madya dengan ngoko, imbuhannya juga ngoko.
b. Madyantara
Dipake orang biasa kepada saudara/kenalannya yang pangkatnya lebih rendah. Mirip madya ngoko, bedanya cuma “kowe” jadi “samang”, “mang”, atau “sampeyan”.
c. Madya Krama
Dipake istri kepada suami. Merupakan campuran dari madya, krama, dan krama inggil. Imbuhannya gak dikrama-in.
4. Basa Krama
a. Krama Lugu
Dipake orang biasa dengan orang biasa [bukan kenalannya]. Semuanya dikrama-in.
b. Muda Krama
Krama-nya orang tua dengan orang tua atau murid dengan guru. Ini campuran krama dengan krama inggil, imbuhannya juga dikrama-in.
c. Wreda Krama
Krama-nya orang tua sama orang muda. Kata-katanya krama tapi imbuhannya gak dikrama-in.
5. Krama Inggil
Dipake orang biasa kepada orang yang terhormat. Wujudnya sama seperti muda krama tapi “kula” jadi “adalem”, “abdi dalem”, “kawula” – “panjenengan” jadi “panjenengan dalem”.
6. Krama Desa
Bahasa orang desa yang masih buta-sastra. Misalnya suatu kata itu dah dikrama-in, kalok di sini masih dikrama-in lagi. Selain itu juga ada pemakaian kata-kata kawi maupun pemakaian kata-kata basa krama inggil terhadap diri sendiri.
Misalnya: nama-nami, sepuh-sepah, dll.
7. Basa Kasar
Bahasa Jawa yang vocab-nya berasa kasar. Hehe. ![]()
8. Basa Bagongan Kedaton
Ini bahasa yang dipake sama abdi dalem keraton.
***
Meskipun begitu, yang di atas itu cuma teori. Pemakaian bahasa Jawa di masyarakat biasanya kembali ke orangnya juga. Misalnya aja, temenku pake bahasa krama ke orangtuanya, tapi masih bilang “kowe” sama ibunya di dalem kalimat-kalimat panjang basa krama itu.
Filed under: sekolah | 4 Comments
Tags: bahasa jawa
itu yang dikasih pak timmy kan?
punyaku di mana yak???
acik2 usek selesai…
iya. weh aku lupa nama bapaknya!
skarang nganggur. hohoo..
klo ada sesorah bahasa jawa masukin lin, banyak yang nyari kayaknya, soalnya pas kemaren aku cuma cerita ujian praktek bikin sesorah, banyak yg komen =)
iyaa aish! aku dah baca yang itu
makasih buat saranmu yaa